Rabu, 02 Desember 2009

Sejarah Kabupaten Batubara


Pengumuman Hasil Akhir penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)Daerah Kab. Batubara maupun disekitarnya dapat dilihat di Blog ini (7/12)!!!

Wilayah Batubara mulai dihuni penduduk pada tahun 1720 M. Ada lima suku yang mendiami wilayah itu, yakni Lima Laras, Tanah Datar, Pesisir, Lima Pulu dan Boga. Kelima suku tersebut dipimpin seorang datuk yang memiliki wilayah teritorial tertentu.

Batubara masih menjadi bagian dari kerajaan Siak dan Johor. Makanya setiap Datuk Kepala Suku mendapat pengangkatan dan capnya dari Sultan Siak. Untuk mewakili kepentingan kerajaan Siak dan mengepalai para datuk di seluruh Batubara, diangkat seorang bendahara secara turun temurun.


Di bawah bendahara dibentuk dewan yang anggotanya dipilih oleh para Datuk Kepala Suku. Anggota Dewan itu adalah seorang Syahbandar (suku Tanah Datar). Juru Tulis dipilih dari suku Lima Puluh. Mata-mata dipilih dari suku Lima Laras dan Penghulu Batangan dipilih tetap dari suku
Pesisir.


Data di Kerajaan Haru menyebutkan bahwa Batubara salah satu daerah yang wajib menyetor upeti kepada kerajaan ini.


Menurut Schadee, dalam bukunya “Geschiedenis van Sumatra Oostkust”, wilayah Pagurawan dan Tanjong berada langsung dibawah jajahan Datuk Lima Puluh dari Batubara yang kemudian tunduk pula kepada Siak.


Dalam tahun 1885, Pemerintah Hindia Belanda membuat Politic Contract. Perjanjian itu meliputi beberapa kerajaan seperti Langkat, Serdang, Deli, Asahan, Siak, Palalawan (Riau), termasuk juga kerajaan-kerajaan kecil seperti Tanah Karo, Simalungun, Indragiri dan Batubara serta Labuhanbatu.


Pada tahun 1889 Residensi Sumatera Timur terbentuk dengan ibukota di Medan. Residensi itu terdiri dari 5 afdeling (kabupaten-red), yaitu Afdeling Deli yang langsung di bawah Residen Medan, Afdeling Batubara berkedudukan di Labuhan Ruku, Afdeling Asahan berkedudukan di Tanjungbalai, Afdeling Labuhanbatu berkedudukan di Labuhanbatu dan Afdeling Bengkalis berkedudukan di Bengkalis.


Dari itu, tampak nyata bahwa sejak dahulu Batubara, punya afdeling tersendiri. Batubara saat itu, punya 8 landschap (setara dengan kecamatan), yang dipimpin oleh seorang raja.


Ketika Indonesia merdeka, wilayah Batubara berubah statusnya menjadi kewedanaan membawahi lima kecamatan yaitu, Kecamatan Talawi, Tanjungtiram, Lima Puluh, Air Putih dan Medang Deras. Sementara ibukota tetap di Labuhan Ruku.


Setelah masa kepemimpinan kewedanaan berlangsung 4 kali pergantian, nama kewedanaan kemudian dicabut, sehingga yang ada hanya 5 (lima) sektor camat. Lalu digabungkan ke wilayah Asahan, disebut dengan nama Kabupaten Asahan, beribukota di Kisaran.


Hal inilah yang menggugah tokoh, cerdik pandai dan masyarakat untuk kembali memperjuangkan adanya wilayah otonom Batubara. Maka pada tahun 1969, dibentuk Panitia Persiapan Otonomi Batubara (PPOB). Namun perjuangan itu kandas sebelum Kabupaten Batubara yang otonom terbentuk.


Di Era Reformasi, para generasi muda penerus perjuangan Kabupaten Batubara kembali menghimpun perjuangan. Mereka membentuk Badan Pekerja Persiapan Pembentukan Kabupaten Batubara (BP3KB) yang berkedudukan di Kota Medan.


Sejalan dengan itu, di setiap kecamatan berdiri Gerakan Masyarakat Menuju Kabupaten Batubara (Gemkara). Saat ini, Ketua Umum BP3KB-Gemkara dipimpin oleh OK Arya Zulkarnain SH MM.


Akhirnya, ridho Tuhan YME mengabulkan doa perjuangan masyarakat Batubara 8 Desember di gedung Nusantara II DPR RI, Sidang Paripurna, RUU Kabupaten Bataubara disyahkan, bersamaan dengan 15 Kabupaten lainnya. ”Alhamdulillah, akhirnya Kabupaten Batubara terwujud,” syukur OK Arya.


Budaya Melayu Kab. Batubara



Di zaman orde baru, " Batubara" yang berada dalam lingkungan kabupaten Asahan, sangat tekenal dengan kain tenunan songket "Songket Batubara" ( tenunan batubara ). Hal ini bisa dilihat dari hampir disetiap desa yang berada di kawasan batubara, remaja putrinya selalu bertenun kain. Pada saat itu Nilai jualnya sangat tinggi dan bisa menacapai pasar manca negara. Itu terjadi pada era tahun 1980 an. Pada waktu itu kaum ibu yang bepergian khususnya undangan pesta pernikahan menjadikan kain songket batubara menjadi semacam sarung khusus yang di pakai untuk undangan pesta. Seiring berjalannya waktu hal itu sudah memudar. Mereka lebih senang bepakaian dengan pakaian budaya lain. ( biar di katan modern ).

Setelah mekarnya kabupaten Batubara dan terpisah dari kabupaten Asahan, tahun 2007 silam. Hendaknya masyarakat kembali mencari jati dirinya yang hilang. salah satu nya dengan membangkit kan kembali budaya - budaya yang dulu pernah menjadi trend di kalangan masyrakat batubara. Hal ini tidak terlepas dari sejauh mana perhatian pemerintah daerah terhadap budaya melayu itu sendiri. Pemerintah punya peran penting dalam menggali unsur - unsur dasar yang di masyarakat kabupaten Batubara. namun masyarakat juga harus pro aktif melalui tokoh - tokoh masyarakat dalam mengembalikan jati diri budaya tersebut.

Saya sebagai putra batubara yang peduli dengan apa yang terjadi di batubara, sangat prihatin atas kondisi ini. Jangan sampai kita tidak bisa menjadi tuan rumah, di rumah kita sendiri. Perlu diketahui " modern bukanlah kita harus meninggalkan budaya, namun bagaimana menjadikan budaya kita agar mampu bersingkronisasi dengan kemajuan zaman dan technologi". Melayu yang Identik dengan Islam, harus lebih mengutamakan nuansa - nuansa islami dalam berinteraksi dengan kemajuan zaman.

Hal ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat kabupaten batubara, dan tanggung jawab pemerintah sebagai penyelenggara daerah. Muda- mudahan Bupati kabupaten batubara yang sekarang sangat sensitif dan inovatif terhadap perkembangan budaya melayu kabupaten "Batubara"


Jumat, 09 Oktober 2009

Japan’s Moon Mission – Walking, Bipedal Moon Robot for 2020 Mission?


Japan is in the early stages of designing a mission to the Moon. The proposed mission places a walking, two legged robot on the Lunar surface in the year 2020. The proposal is being considered as a part of Japan’s new space strategy, and will be further decided after public input has been taken.


Should the proposal be further pursued, Japan will soon begin designing bipedal robots for this mission. Landing a bipedal robot on the Moon is only one aspect of Japan’s proposed space mission. After the landing of the bipedal robot, possible manned missions or other robot missions could be in the works for later dates.

This news comes in the light of North Korea’s rocket launch, where a multi-stage rocket was fired from North Korea, and flown over Japan.
Source: http://roboticsblog.org